JAKARTA - Wajah industri e-commerce di Tanah Air sedang mengalami transformasi besar yang melampaui sekadar angka pertumbuhan. Di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan serta tekanan inflasi yang membayangi, masyarakat Indonesia justru menunjukkan sisi yang lebih tangguh dan cerdas dalam mengelola pengeluaran digital mereka. Data terbaru dari Google dan Temasek mengonfirmasi bahwa sektor e-commerce Indonesia tetap mampu tumbuh di angka dua digit, yakni sekitar 14 persen pada tahun 2025.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, terdapat pergeseran psikologis yang menarik untuk dicermati. Era di mana konsumen berbelanja secara impulsif hanya karena tergiur potongan harga mulai berganti dengan pola belanja yang lebih terencana dan rasional. Fenomena ini menandakan bahwa kedewasaan digital masyarakat Indonesia telah mencapai level baru, di mana mereka kini lebih selektif dalam memilih tempat dan cara menghabiskan uang mereka di dunia maya.
Lahirnya Era Confidence Commerce di Indonesia
Proses panjang selama lebih dari satu dekade menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan ekosistem digital. Commercial Director Lazada Indonesia, Erika Agustin, melihat perubahan ini sebagai fase kematangan konsumen. Menurutnya, konsumen Indonesia kini telah memasuki fase yang lebih matang dalam berbelanja online.
Erika menjelaskan bahwa platform belanja daring di Indonesia bukanlah hal baru, namun perilakunya kini jauh berbeda dibandingkan sepuluh tahun silam. “Berdasarkan riset dari Cube Asia kita melihat memang ada pergeseran perilaku konsumen kita di Indonesia. E-commerce di Indonesia ini sudah lama sekali sebenarnya ada,” ujar Erika dalam program Naratama Kompas.com, dikutip Selasa. Ia menambahkan bahwa perubahan ini melahirkan istilah baru dalam industri. “Jadi dari 10 tahun yang lalu, 12 tahun yang lalu dan sekarang kita melihat konsumen Indonesia itu sudah mulai lebih dewasa dalam berbelanja, namanya itu confidence commerce, di mana konsumen kita sudah bukan lagi mencari promo saja.”
Kepercayaan Sebagai Fondasi Utama Keputusan Belanja
Dahulu, harga termurah adalah magnet utama bagi setiap transaksi di e-commerce. Namun, kini konsumen mulai menyadari bahwa harga murah sering kali membawa risiko jika tidak dibarengi dengan kredibilitas. Keputusan belanja saat ini lebih banyak didorong oleh rasa aman dan kepercayaan terhadap platform serta produk yang ditawarkan.
Literasi digital yang semakin baik membuat masyarakat menjadi pembelanja yang lebih bijaksana dan teredukasi. “Sekarang mereka lebih bijaksana dan teredukasi. Konsumen mencari platform dan produk yang memberikan rasa percaya diri saat berbelanja. Mereka sudah sangat melek digital dan familier dengan transaksi online,” jelas Erika. Rasa percaya diri atau confidence inilah yang kini menjadi mata uang baru dalam ekosistem perdagangan digital di Indonesia.
Strategi Belanja Terencana Menggantikan Pola Impulsif
Salah satu bukti kedewasaan konsumen adalah kemampuan mereka dalam membaca dan memanfaatkan pola promosi yang ada. Tidak lagi terjebak dalam godaan sesaat, konsumen kini cenderung menggunakan strategi yang lebih taktis untuk mendapatkan nilai maksimal dari uang mereka. Momen promosi besar kini tidak lagi dihadapi dengan kepanikan belanja, melainkan dengan persiapan yang matang.
Erika mencatat bahwa kebiasaan mengkurasi barang di keranjang belanja jauh sebelum waktu promosi tiba telah menjadi praktik umum. “Konsumen sekarang sudah paham pola seperti double date. Mereka akan menyimpan barang di keranjang belanja terlebih dahulu, lalu membeli saat promo berlangsung. Jadi belanjanya lebih strategis,” ungkapnya. Pola ini kontras dengan kondisi satu dekade lalu ketika skeptisisme terhadap belanja daring masih tinggi dan diskon dianggap sebagai satu-satunya penarik minat.
Meredupnya Dominasi Perang Harga di Industri E-commerce
Pertanyaan besar yang sering muncul adalah apakah perang harga masih efektif untuk menarik hati konsumen Indonesia? Erika menilai bahwa meski diskon besar belum sepenuhnya hilang dari pasar, efektivitasnya telah bergeser. Konsumen kini jauh lebih kritis dalam membedah nilai di balik sebuah label harga.
Faktor-faktor seperti keaslian barang, reputasi penjual, hingga testimoni pengguna lain menjadi variabel yang sangat dipertimbangkan sebelum mengeklik tombol beli. “Mungkin tidak 100 persen hilang, tapi sekarang orang sudah lebih bijaksana. Harga memang penting, tapi di balik harga, value-nya apa sih? Jadi apakah platformnya cukup tepercaya? Apa sellernya cukup tepercaya? Ratingnya gimana? Apakah barangnya asli atau tidak? Jadi sudah bisa memilah-milah nih,” kata Erika.
Masa Depan Belanja Online: Trust is a Must
Ke depan, tantangan bagi para penyedia layanan e-commerce bukan lagi sekadar membakar uang untuk promosi, melainkan bagaimana membangun dan menjaga kepercayaan nasabah. Transformasi dari pemburu diskon menjadi pemburu nilai (value seeker) mencerminkan bahwa konsumen Indonesia sudah naik kelas.
Kedewasaan ini diharapkan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi digital yang lebih sehat dan berkelanjutan. Dengan literasi keuangan dan digital yang terus meningkat, belanja online tidak lagi hanya sekadar pemenuhan gaya hidup, melainkan aktivitas strategis yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan kualitas terbaik dengan cara yang paling aman.