Lupa Niat Puasa Saat Sahur Tidak Membatalkan Puasa Menurut Buya Yahya

Jumat, 20 Februari 2026 | 11:00:38 WIB
Lupa Niat Puasa Saat Sahur Tidak Membatalkan Puasa Menurut Buya Yahya

JAKARTA - Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang harus disertai dengan niat. 

Niat menjadi syarat sah puasa yang tidak bisa ditawar. Tanpa niat, puasa yang dijalankan tidak dianggap sah menurut hukum fiqih.

Waktu niat puasa dilakukan mulai Maghrib hingga sahur sebelum terbit fajar. Jika niat tidak dilakukan pada waktu tersebut, puasa menjadi tidak sah. Namun untuk puasa sunnah, niat boleh dilakukan pada pagi hari sebelum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Bersantap Sahur Bisa Digolongkan Niat Puasa

Banyak yang bertanya bagaimana hukum puasa jika lupa berniat namun tetap sahur. Buya Yahya menjelaskan bahwa orang yang bersantap sahur walau lupa niat tetap dihukumi sah puasanya. Menurutnya, tujuan makan sahur pada tengah malam sudah menunjukkan niat puasa.

“Ada orang sudah sahur tapi lupa niat, nyeselnya ya Allah. Semalam sahur tapi saking buru-burunya gara-gara dibanguninnya susah, sampai nggak niat,” kata Buya Yahya, pimpinan Pondok Pesantren Al-Bahjah.

“Ambil pendapat yang sangat mudah, bahwasanya kamu makan di tengah malam itu kan aneh. Kalau makan malam kan biasanya jam 20.00. Lha, kok jam 3.00 pagi makan malam, kamu mau ngapain? Kan gitu pertanyaannya. Jawabannya mau puasa, itu dianggap niat. Sudah gitu saja nggak usah pusing-pusing,” imbuhnya.

Lupa Niat Sering Terjadi pada Ibu-Ibu

Buya Yahya menambahkan, kasus lupa niat sering dialami ibu-ibu. Mereka bangun tengah malam untuk memasak sahur, membangunkan anak, dan menyiapkan keluarga. Kesibukan ini terkadang membuat mereka lupa untuk melakukan niat puasa.

Hal ini dianggap wajar karena tindakan ibu-ibu tersebut tetap diarahkan untuk tujuan ibadah. Aktivitas sahur yang diniatkan dalam hati sudah cukup menunjukkan kesungguhan berpuasa. Buya Yahya menekankan bahwa niat tidak harus formal atau panjang.

Niat Tidak Harus Panjang dan Bisa Pakai Bahasa Lokal

Niat puasa tidak harus menggunakan doa panjang atau bahasa Arab. Terlintas di hati sekadar ‘saya mau puasa besok’ sudah mencukupi. Pengucapan lisan hanya membantu kekhusyukan di dalam hati, tidak menjadi syarat sah.

“Adapun niat tidak harus pakai bahasa Arab, pakai bahasa daerah juga bisa,” tutur Buya Yahya. Hal ini memudahkan setiap orang untuk tetap melaksanakan ibadah tanpa terbebani aturan formal. Cara ini juga sesuai dengan prinsip fiqih yang fleksibel untuk kemudahan umat.

Niat Bulanan untuk Mengantisipasi Lupa

Buya Yahya menganjurkan agar umat Islam melakukan niat puasa selama satu bulan penuh. Dengan niat di awal bulan, apabila ada hari tertentu lupa berniat, puasanya tetap sah. Niat bulanan berfungsi sebagai cadangan untuk menjaga ibadah tetap valid sepanjang Ramadhan.

“Meski sudah niat satu bulan, tiap malam tetap harus niat. Niat satu bulan di awal Ramadhan itu untuk berjaga-jaga saja,” jelasnya. Dengan cara ini, puasa menjadi lebih mudah dijalankan tanpa menimbulkan kekhawatiran. Strategi ini memberikan rasa tenang sekaligus menjaga kekhusyukan ibadah sepanjang bulan suci.

Terkini