JAKARTA - PT Timah Tbk, anggota MIND ID, aktif menjalankan program rehabilitasi lahan bekas tambang di Bangka Belitung.
Strategi ini dilakukan agar ekosistem dan kehidupan alami di area pasca tambang bisa kembali pulih. Langkah ini menjadi bagian penting dari komitmen perusahaan terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan alam.
Pengembangan Area Pembibitan dan Kultur Jaringan
Abang Asriyadhi Davinci, SM Reklamasi Pasca Tambang PT Timah Tbk, menjelaskan bahwa pihaknya menyiapkan area khusus untuk pembibitan pohon.
"Di area pembibitan sendiri, selain kita melakukan aktivitas pembibitan. Kita ada yang namanya kultur jaringan. Kultur jaringan itu adalah aktivitas observasi kegiatan-kegiatan pembibitan yang kita sifatnya lebih ke arah laboratorium. Nanti tahapan kultur jaringan ini, nanti setelah dia sudah waktunya untuk tumbuh, nanti baru kita pindahkan ke media tanam yang pada umumnya konvensional seperti itu," kata Abang.
Metode kultur jaringan ini memungkinkan pemantauan bibit secara intensif sebelum ditanam di lahan bekas tambang. Tahapan ini memastikan bahwa bibit yang ditanam lebih siap menghadapi kondisi alam yang menantang. Pendekatan ilmiah ini menjadi kunci keberhasilan rehabilitasi yang berkelanjutan dan efektif.
Selain kultur jaringan, pembibitan dilakukan dengan berbagai teknik pendukung. Bibit yang siap akan dipindahkan ke lahan untuk proses penanaman. Langkah ini menggabungkan inovasi dan praktik konservasi tradisional agar hasilnya optimal.
Pemeliharaan Jangka Panjang untuk Pertumbuhan Optimal
Abang menekankan bahwa rehabilitasi tidak berhenti pada penanaman saja. "Kemudian akan dilakukan perawatan sampai dia tumbuh. Minimal di aktivitas pemeliharaan itu sekitar 3 tahun ke depan seperti itu setelah dilakukan penanaman," jelasnya. Perawatan jangka panjang ini penting agar tanaman yang ditanam bisa tumbuh maksimal dan membentuk ekosistem yang stabil.
Program pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan, dan pengawasan kesehatan tanaman. Setiap langkah diarahkan untuk menumbuhkan vegetasi yang kuat dan tahan terhadap kondisi alam. Dengan begitu, kawasan bekas tambang secara bertahap kembali hijau dan produktif.
Abang optimistis upaya ini akan membawa hasil positif bagi kelestarian lingkungan. "Sejauh ini PT. Timah Tbk membuktikan bahwa lokasi pasca tambang ini bisa kita kembalikan lagi ekosistemnya baik dari floranya maupun dari tanaman dan tumbuh-tumbuhannya. Ketika vegetasi mulai stabil, perubahan lain pun mengikuti. Kawasan yang pulih menyediakan ruang aman bagi satwa untuk kembali," ujarnya.
Rehabilitasi Satwa dan Habitat Alami
PT Timah Tbk bekerja sama dengan PPS Alobi Foundation untuk mendukung rehabilitasi satwa di lahan bekas tambang. Dokter hewan drh. Joko Trianto menjelaskan bahwa sejumlah lahan disiapkan untuk pembangunan kandang rehabilitasi.
"Kita dikasih lahan timah seluas 3,8 hektare atau lebih itu untuk kita bangun beberapa kandang rehabilitasi ya untuk satwa yang kita selamatkan, kita rehabilitasi sampai siap dirilis kembali ke alam," jelasnya.
Kandang ini dibuat menyerupai habitat asli satwa agar insting liar tetap terjaga. Satwa yang direhabilitasi dibiasakan dengan lingkungan yang meniru alam liar. Tujuannya agar ketika dilepas, mereka mampu bertahan hidup dan beradaptasi secara alami.
Penyediaan fasilitas ini meliputi pengaturan pakan, area bermain, dan stimulasi perilaku. Satwa belajar berburu, bergerak, dan berinteraksi seperti di alam bebas. Metode ini memastikan rehabilitasi tidak hanya fisik, tetapi juga mendukung kelangsungan perilaku alami.
Kolaborasi dan Strategi Inovatif MIND ID
Strategi rehabilitasi PT Timah Tbk memadukan inovasi, teknologi, dan pengetahuan ekologis. Kultur jaringan, area pembibitan, dan kandang rehabilitasi satwa merupakan bagian dari pendekatan holistik. Langkah-langkah ini didukung oleh kolaborasi dengan berbagai lembaga dan komunitas lingkungan.
Selain itu, perusahaan melibatkan masyarakat sekitar dalam menjaga lahan pasca tambang. Edukasi dan partisipasi lokal menjadi bagian dari strategi kelestarian jangka panjang. Dengan sinergi ini, rehabilitasi berjalan lebih efektif dan mendukung keberlanjutan ekosistem.
Pemantauan berkelanjutan juga dilakukan melalui data pertumbuhan tanaman dan kesehatan satwa. Informasi ini menjadi dasar evaluasi serta penyesuaian strategi konservasi. Dengan pendekatan ilmiah dan partisipatif, rehabilitasi lahan tambang lebih terukur dan berhasil.
Dampak Positif dan Harapan Masa Depan
Rehabilitasi lahan bekas tambang menunjukkan dampak nyata terhadap lingkungan sekitar. Vegetasi yang tumbuh kembali membantu menjaga kualitas tanah, mengurangi erosi, dan menyediakan habitat baru bagi satwa. Kawasan pasca tambang perlahan berubah menjadi ruang hijau yang produktif dan aman bagi ekosistem.
Satwa yang telah direhabilitasi mulai menempati kawasan secara alami. Habitat baru mendukung rantai makanan dan keberlanjutan ekosistem. PT Timah Tbk optimistis bahwa kombinasi vegetasi, pemeliharaan, dan rehabilitasi satwa akan menciptakan lingkungan yang stabil dan lestari.
Ke depan, program ini akan diperluas mencakup lebih banyak lahan dan spesies tanaman. Pendekatan kolaboratif dengan lembaga konservasi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci kesuksesan jangka panjang. Dengan strategi berkelanjutan ini, Bangka Belitung memiliki model rehabilitasi tambang yang bisa direplikasi di wilayah lain.
Masyarakat diharapkan terus mendukung upaya ini agar hasil rehabilitasi dapat bertahan. Kesadaran dan partisipasi lokal memperkuat fondasi ekosistem pasca tambang. Sinergi antara perusahaan, lembaga, dan komunitas menjadi modal utama untuk masa depan alam yang lebih hijau dan lestari.