Perubahan Iklim dan Risiko Kesehatan Masyarakat

Jumat, 29 Agustus 2025 | 07:37:31 WIB
Perubahan Iklim dan Risiko Kesehatan Masyarakat

JAKARTA - Musim yang dahulu bisa diprediksi kini tak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Pada Juni lalu, hujan deras mengguyur sejumlah wilayah, lalu di Juli banjir datang tak sesuai kalender. Ketika memasuki Agustus yang seharusnya menjadi puncak kemarau 2025, hujan justru masih rajin turun di berbagai daerah Indonesia. Kondisi yang tidak menentu ini menjadi tanda kuat bahwa perubahan iklim semakin nyata.

Bagi masyarakat, ketidakpastian cuaca bukan sekadar mengganggu aktivitas, tetapi juga membawa risiko serius bagi kesehatan. Tubuh lebih rentan terhadap penyakit karena daya tahan menurun, terutama ketika suhu bisa berubah ekstrem hanya dalam hitungan jam. Batuk, pilek, hingga demam kini lebih sering dikeluhkan warga.

M. Hisyam, warga Cicalengka, Kabupaten Bandung, menjadi salah satu yang merasakan dampak tersebut. Ia bercerita bahwa anaknya, Iza yang baru berusia dua tahun, sudah tiga kali jatuh sakit hanya dalam sebulan. “Saya pun yang dewasa merasa tidak nyaman, apalagi anak. Pagi bisa cerah tapi sore hujan. Kadang pagi hujan, sore malah cerah dan sudah susah ditebak,” ujarnya gusar.

Suhu yang Melompat dan Ancaman Penyakit

Cuaca kini bisa berubah seketika pagi terasa dingin, siang gerah, lalu sore disambut hujan deras. Penelitian lintas negara menyebut fenomena ini berhubungan erat dengan meningkatnya risiko penyakit. Fluktuasi suhu harian ekstrem atau diurnal temperature range (DTR) terbukti menimbulkan lonjakan kematian akibat gangguan pernapasan maupun kardiovaskular.

Analisis National Library of Medicine bahkan mencatat risiko kematian akibat DTR bisa naik 0,2–7,4% dan akan meningkat seiring dengan bertambahnya suhu rata-rata global. Contohnya di Virginia, Amerika Serikat, penelitian selama 15 tahun menemukan risiko kematian melonjak hingga 20% saat DTR melebihi 20°C, terutama 1–2 hari setelah fluktuasi ekstrem terjadi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut mengingatkan bahwa perubahan iklim berpotensi memicu masalah kesehatan jangka panjang. Dampak seperti stres panas, malnutrisi, malaria, hingga diare diperkirakan bisa menambah sekitar 250.000 kematian per tahun pada periode 2030–2050.

Riset yang dipublikasikan di International Journal of Environmental Research and Public Health (2022) juga mengungkap korelasi kuat antara iklim tropis yang semakin tidak stabil dengan meningkatnya penyakit berbasis vektor, seperti demam berdarah dengue, malaria, dan chikungunya. Curah hujan yang turun di luar musim menciptakan genangan air, tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak.

Tingginya kelembapan memperpanjang umur nyamuk, sementara suhu hangat mempercepat inkubasi virus di tubuh vektor. Alhasil, risiko penularan meningkat, bahkan di bulan-bulan yang sebelumnya dianggap aman.

Fenomena Astronomi dan Persepsi Dingin

Di Bandung Raya, perubahan cuaca ekstrem terasa jelas. Warga mulai terbiasa dengan fluktuasi, meski akhir Juli lalu terasa lebih dingin dari biasanya. Adi Permana, seorang karyawan swasta, bahkan mengaku harus mengenakan jaket ganda setiap berangkat kerja. “Bandung seperti kembali kesetelan awal dinginnya karena bisa 18 derajat,” ujarnya.

Menurut Taufiq Hidayat, Guru Besar Astronomi ITB, dinginnya udara ini bertepatan dengan peristiwa aphelion, saat bumi berada di titik terjauh dari matahari dalam orbit tahunannya. Meski demikian, ia menegaskan pengaruh aphelion terhadap iklim sangat kecil. Sensasi dingin lebih dipicu faktor musiman akibat kemiringan sumbu bumi.

“Pengaruh aphelion terhadap suhu di Bandung sangat kecil. Dingin yang kita rasakan sekarang lebih efek musim akibat siklus rotasi bumi,” katanya.

Justru, kata Taufiq, anomali iklim yang dipicu pemanasan global lah yang menjadi penyebab utama cuaca tidak menentu. Suhu laut yang menghangat dan dinamika atmosfer menggeser pola musim, membuat kemarau bisa tetap basah dengan hujan deras turun di luar jadwal. “Bahkan, sehari hujan saja bisa membuat Bandung lumpuh,” ujarnya.

Prediksi BMKG: Kemarau Basah Hingga Oktober

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena kemarau basah ini akan bertahan hingga Oktober 2025. Kondisi dipengaruhi lemahnya Monsun Australia serta suhu muka laut hangat di selatan Indonesia. Keduanya memicu kelembapan tinggi dan pembentukan awan hujan meski seharusnya masuk musim kering.

Di Jawa Barat, BMKG mencatat awal musim kemarau berlangsung dengan sifat “atas normal,” artinya curah hujan tetap lebih tinggi dari rata-rata klimatologis. Teguh Rahayu, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, menyebut suhu terendah pada Juli masih normal, yakni 18,4°C. Namun, dingin yang dirasakan warga lebih dipicu dinamika atmosfer aktif, seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuatorial, dan konvergensi di wilayah Jawa Barat.

Ia menambahkan, udara dingin pagi hari banyak dipengaruhi angin timur yang membawa udara kering dan penurunan tutupan awan. Meski siang terasa panas, kelembapan tinggi tetap memungkinkan awan konvektif berkembang, menghasilkan hujan lokal intensitas ringan hingga lebat.

Risiko dan Tantangan Kota

Pergeseran cuaca dari pola normal membawa risiko besar, mulai dari banjir dan longsor akibat hujan deras di luar musim hingga turunnya daya tahan tubuh karena suhu yang melonjak atau menurun drastis. Dampaknya paling dirasakan kelompok rentan—anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Penelitian mencatat fluktuasi suhu harian dapat memperburuk asma, memicu pneumonia, bahkan menambah kasus kematian.

Taufiq menekankan pentingnya kesiapsiagaan. “Tanpa mitigasi bencana efektif, siklus kemarau basah bisa jadi menimbulkan kerugian besar jauh melampaui sekadar gangguan aktivitas harian,” katanya.

Bagi kota besar seperti Bandung, tantangan ini nyata. Infrastruktur, sistem peringatan dini, dan kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan agar mampu menghadapi perubahan iklim yang semakin cepat. Menurut Taufiq, adaptasi kota harus dilakukan segera, sebab dampak pemanasan global bukanlah masalah jangka pendek.

“Kenaikan setengah derajat suhu rata-rata global dalam dua hingga tiga dekade mungkin tampak sepele, namun dampaknya dapat mengubah wajah kota dan kehidupan warga,” ujarnya.

Ia menutup dengan pesan agar masyarakat semakin melek ilmu, baik astronomi maupun pengetahuan cuaca, untuk membaca sinyal perubahan yang terjadi. Sebab, pemahaman yang tepat menjadi bekal penting dalam menghadapi iklim yang kian tak menentu.

Terkini

Honor X9c 5G: Baterai Jumbo & Kamera 108MP

Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:33:27 WIB

Lava Ultra Play 5G: Layar Luas, Kamera Tajam

Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:38:02 WIB

Realme 2 sampai 3 Jutaan: Smartphone Andal Dan Terjangkau

Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:41:34 WIB

Advan G9 Pro: HP Tahan Lama Harga Terjangkau

Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:46:12 WIB