Harga Batu Bara

Lonjakan Harga Batu Bara Global Didukung Kebutuhan Energi China dan India

Lonjakan Harga Batu Bara Global Didukung Kebutuhan Energi China dan India
Lonjakan Harga Batu Bara Global Didukung Kebutuhan Energi China dan India

JAKARTA - Harga batu bara global kembali mencatatkan kenaikan setelah mengalami penurunan dalam beberapa hari sebelumnya. 

Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan dari konsumen utama, termasuk pembangkit listrik di China. Kondisi tersebut menandai pasar batu bara yang semakin dinamis di awal tahun 2026.

Kenaikan harga ini menjadi perhatian penting bagi produsen dan konsumen di seluruh dunia. Indonesia sebagai salah satu produsen utama turut berperan dalam pergerakan harga. Pasokan dan kebijakan pemerintah menjadi faktor yang ikut memengaruhi pasar global.

China sebagai konsumen terbesar masih mengandalkan batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik maupun ekspor. Pembangkit listrik tenaga batu bara baru terus dibangun untuk memastikan pasokan energi tetap aman. Permintaan yang stabil dari China turut menopang harga batu bara di pasar internasional.

Selain itu, lonjakan kebutuhan listrik global dipicu oleh pengembangan pusat data AI dan kendaraan listrik. Permintaan tinggi dari sektor-sektor ini menambah tekanan terhadap pasokan batu bara. Efeknya, harga batu bara terus bergerak pada level tinggi sepanjang beberapa minggu terakhir.

Permintaan Global dan Kapasitas Pembangkit Listrik

China diperkirakan akan mengoperasikan lebih dari 100 PLTU baru sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut belum termasuk lebih dari 400 unit PLTU yang sedang dalam konstruksi. Kebutuhan listrik yang terus meningkat memaksa negara tersebut tetap bergantung pada batu bara.

Meskipun Beijing berkomitmen mengurangi penggunaan batu bara sebelum 2030, transisi energi terbarukan berjalan secara bertahap. Saat ini, batu bara tetap menjadi bahan bakar dominan untuk perekonomian dan industri. Proses transisi energi menyebabkan pasar tetap mengandalkan pasokan batu bara dari berbagai negara.

Selain China, India juga menjadi konsumen utama yang memengaruhi permintaan global. Pergerakan harga tidak hanya tergantung pada produksi lokal, tetapi juga pola konsumsi kedua negara besar tersebut. Hal ini membuat pasar batu bara internasional cukup sensitif terhadap perubahan kebijakan dan pasokan.

Permintaan listrik yang meningkat juga didorong oleh kegiatan ekonomi dan ekspansi industri teknologi. Pusat data dan sektor energi baru menjadi pendorong konsumsi. Faktor ini menjadikan pasar batu bara tetap aktif meski terjadi fluktuasi harga jangka pendek.

Produksi Indonesia dan Dampak Pemangkasan Kuota RKAB

Produksi batu bara Indonesia diproyeksikan menurun menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun ini. Penurunan terjadi akibat melemahnya permintaan impor dari China dan India. Sementara tahun lalu, produksi mencapai hampir 800 juta ton.

Sejumlah perusahaan tambang di Indonesia menangguhkan ekspor batu bara spot. Hal ini terjadi setelah pemerintah memberlakukan pemangkasan kuota melalui RKAB. Tujuannya untuk mengendalikan produksi agar tetap sesuai target tahunan.

Pemangkasan kuota berdampak lebih signifikan pada tambang skala menengah dan kecil. Produsen besar masih memiliki fleksibilitas produksi dari kuota sebelumnya. Namun, pasar spot di Asia mengalami ketatnya pasokan, khususnya untuk kualitas menengah hingga rendah.

Akibatnya, pembeli internasional kesulitan mendapatkan pasokan cepat dari Indonesia. Beberapa konsumen mulai beralih ke negara lain dan menerima harga lebih tinggi untuk kontrak jangka pendek. Ketidakpastian pasokan ini menjadi perhatian para pelaku pasar global.

Respons Pasar dan Analisis Goldman Sachs

Goldman Sachs menilai pemangkasan produksi Indonesia kemungkinan tidak sepenuhnya sesuai pengumuman pemerintah. Faktor operasional dan kebijakan membuat realisasi penurunan output cenderung terbatas. Produsen besar tetap memiliki insentif untuk mempertahankan produksi tinggi ketika harga menarik.

Kebutuhan domestik dan permintaan ekspor juga menjadi faktor penahan penurunan produksi. Akibatnya, pasokan Indonesia tetap relatif kuat meskipun kuota terlihat ketat. Dampak pemangkasan produksi terhadap harga global kemungkinan lebih kecil daripada ekspektasi awal.

Risiko lonjakan harga akibat kekurangan pasokan dinilai terbatas dalam jangka pendek. Fokus pasar akan bergeser pada permintaan dari China dan India, bukan hanya kebijakan pasokan Indonesia. Pasar menunggu penyesuaian RKAB atau kejelasan kebijakan tambahan sebelum harga bergerak tajam.

Selain itu, saham perusahaan tambang di Australia, seperti Yancoal, mencatat lonjakan signifikan. Hal ini terjadi setelah data menunjukkan percepatan pembangunan PLTU di China. Investasi besar pada energi terbarukan sekaligus mengaktifkan kembali PLTU lama meningkatkan permintaan batu bara.

Kombinasi Energi Terbarukan dan Batu Bara di China

Laporan terbaru mencatat emisi karbon sektor kelistrikan China menurun untuk pertama kalinya pada 2023. Penurunan ini berkat masifnya pengembangan energi bersih. Namun, proposal pembangunan PLTU baru dan pengaktifan PLTU lama tetap mencapai rekor 161 gigawatt pada 2023.

Selain itu, China mengoperasikan kapasitas PLTU baru sebesar 78 gigawatt. Angka ini lebih tinggi daripada penambahan bersih kapasitas batu bara India selama hampir satu dekade. Kondisi ini menunjukkan bahwa batu bara tetap menjadi pilar penting untuk keamanan energi jangka pendek.

Secara keseluruhan, Indonesia tetap menjadi pemain penting dalam stabilitas pasar batu bara global. Kebijakan produksi dan kuota ekspor berpengaruh terhadap dinamika harga internasional. 

Dengan kombinasi permintaan tinggi, pasokan terkendali, dan kebijakan kuota, pasar batu bara diperkirakan akan tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index