KBRI

KBRI Hadirkan Produk Unggulan Indonesia, Santan, di Luckin Coffee Beijing

KBRI Hadirkan Produk Unggulan Indonesia, Santan, di Luckin Coffee Beijing
KBRI Hadirkan Produk Unggulan Indonesia, Santan, di Luckin Coffee Beijing

JAKARTA - Kehadiran produk Indonesia di pasar global terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. 

Berbagai komoditas unggulan semakin mendapat tempat dalam rantai pasok internasional. Salah satu momentum penting datang dari industri kopi di China.

KBRI Beijing hadirkan santan Indonesia di gerai terbaru Luckin Coffee sebagai simbol penguatan kerja sama ekonomi. Kedutaan Besar Republik Indonesia memfasilitasi penggunaan santan Indonesia sebagai bahan minuman kopi. Produk tersebut diperkenalkan di gerai ke-30.000 Luckin Coffee.

Gerai terbaru ini berlokasi di Shenzhen, Provinsi Guangdong. Kehadiran santan Indonesia menjadi bagian dari peresmian gerai tersebut. Momentum ini menegaskan peran Indonesia dalam industri minuman global.

Santan Indonesia dalam Produk Unggulan

Luckin Coffee meresmikan gerainya yang ke-30.000 dengan menawarkan produk andalan. Salah satu menu terlaris yang ditawarkan adalah coco latte. Minuman ini menggunakan santan kelapa asal Indonesia.

Jaringan kedai kopi terbesar di China tersebut menjadikan cita rasa Indonesia sebagai daya tarik utama. Santan Indonesia memberi karakter khas pada produk kopi tersebut. Inovasi ini mendapat respons positif dari konsumen.

"Yang membuat Luckin Coffee Istimewa bagi saya adalah cita rasa Indonesia yang hadir dalam setiap seruput coco latte," kata Duta Besar RI untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun. Pernyataan tersebut disampaikan saat peresmian gerai. Kehadiran diplomat Indonesia memperkuat makna simbolik acara tersebut.

Popularitas Coco Latte dan Kemitraan Kelapa

Produk coco latte telah dipasarkan sejak 2021. Minuman ini menjadi salah satu produk terlaris Luckin Coffee. Pada 2025, penjualannya tercatat mencapai lebih dari 1,4 miliar cangkir.

Untuk memperkuat pasokan bahan baku, Luckin Coffee membangun kemitraan strategis. Pada Maret 2025, kerja sama dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten Banggai di Sulawesi Tengah. Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu pemasok kelapa terbesar.

Kemitraan ini bertujuan memastikan keberlanjutan pasokan kelapa Indonesia. Kolaborasi tersebut menguntungkan kedua belah pihak. Rantai pasok yang stabil mendukung ekspansi produk coco latte.

Simbol Pertemuan Budaya Dua Negara

Selain santan kelapa, Luckin Coffee juga mengimpor biji kopi dari berbagai negara. Biji kopi tersebut berasal dari Indonesia, Brazil, Colombia, dan Ethiopia. Perusahaan juga tetap menggunakan biji kopi lokal China.

Dubes Djauhari menyampaikan bahwa kerja sama ini melampaui aspek bisnis. Pasokan kelapa Indonesia menjadi simbol penguatan hubungan bilateral. Nilai budaya turut melekat dalam kemitraan tersebut.

"Melalui secangkir kopi dan santan yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, sekarang turut menjadi bagian dari keseharian masyarakat China," tambah Dubes Djauhari. Pernyataan ini menegaskan makna budaya di balik kerja sama. Produk pangan menjadi jembatan interaksi masyarakat.

Ekspansi Luckin Coffee dan Potensi Indonesia

Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil kopi dan kelapa terbesar dunia. Pada 2025, ekspor kopi Indonesia ke China tercatat meningkat signifikan. Ekspor kelapa Indonesia ke China juga mencapai lebih dari 245 juta dolar AS.

Sebagai waralaba kopi terbesar di China, Luckin Coffee terus melakukan ekspansi. Perusahaan telah membuka puluhan gerai di Singapura dan Malaysia. Pada musim panas 2025, gerai pertama juga dibuka di New York.

Luckin Coffee yang berasal dari Xiamen menargetkan pembukaan 40.000 gerai. Model bisnis tanpa kasir menjadi ciri khas perusahaan. Pemesanan dilakukan sepenuhnya melalui aplikasi ponsel.

Konsep digital ini menyasar konsumen muda dan pekerja urban. Harga terjangkau dan kepraktisan menjadi daya tarik utama. Inovasi produk terus dilakukan untuk menjaga daya saing.

Kehadiran santan Indonesia di Luckin Coffee mencerminkan peluang besar komoditas nasional. Integrasi produk lokal dalam jaringan global memperluas pasar ekspor. Kolaborasi ini memperkuat posisi Indonesia di industri pangan dunia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index