JAKARTA - Stabilitas pasokan bahan pokok menjadi prioritas utama pemerintah dalam menyambut momentum besar hari keagamaan. Di tengah upaya pemulihan infrastruktur pascabencana, jaminan akan ketersediaan pangan bagi masyarakat Aceh menjadi angin segar yang menenangkan. Pemerintah pusat melalui Satuan Tugas (Satgas) Rehabilitasi dan Rekonstruksi terus melakukan pengawasan berlapis guna memastikan tidak ada kelangkaan yang dapat memicu kenaikan harga secara tidak wajar.
Kepastian ini bukan sekadar klaim, melainkan hasil dari pemantauan data komprehensif yang dilakukan secara real-time. Keberhasilan dalam menjaga rantai pasok ini dianggap sebagai kunci penting dalam menjaga kondusivitas wilayah Aceh, terutama bagi masyarakat yang tengah bersiap memasuki bulan suci Ramadan.
Audit Ketersediaan Pangan Secara Langsung di Bumi Serambi Mekkah
Kepastian mengenai kondisi pangan yang stabil tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Satuan Tugas (Satgas) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana sekaligus Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian. Dalam kunjungan kerjanya ke Aceh pada Selasa, 10 Februari 2026 kemarin, ia memberikan pernyataan tegas mengenai kondisi gudang logistik daerah.
Kepastian tersebut disampaikan Tito saat melakukan kunjungan kerja ke Aceh. “Pangan sangat cukup. Sangat cukup. Saya sudah cek Bulog, stok Bulog saya tiap hari mendapat data,” ujar Tito. Pernyataan ini sekaligus menepis keraguan mengenai kemungkinan gangguan stok akibat dampak bencana yang sempat melanda beberapa wilayah di Sumatera sebelumnya.
Sistem Pemantauan Harian Melalui Perum Bulog
Pengawasan ketat dilakukan dengan mengandalkan integrasi data dari berbagai lini. Pemerintah pusat memastikan bahwa setiap pergerakan barang pokok tercatat dengan akurat sehingga langkah antisipasi dapat segera diambil jika terjadi defisit stok di suatu wilayah.
Menurutnya, pemerintah pusat terus memantau pergerakan stok logistik harian melalui data dari Perum Bulog. Secara umum, ketersediaan pangan tidak mengalami kendala berarti. Namun, transparansi data ini sangat penting agar kebijakan yang diambil tepat sasaran dan mampu menjangkau kebutuhan masyarakat secara adil.
Atensi Khusus Bagi Wilayah Pegunungan dan Pedalaman
Meskipun secara akumulatif stok pangan di Aceh dinyatakan aman, pemerintah tetap mewaspadai dinamika di lapangan, khususnya terkait hambatan geografis. Wilayah-wilayah yang memiliki topografi menantang dan akses yang sulit menjadi perhatian utama dalam strategi distribusi logistik kali ini. Pemerintah memberikan perhatian khusus pada sejumlah wilayah terdampak parah bencana, terutama daerah pegunungan dan pedalaman.
Kondisi geografis yang ekstrem memerlukan penanganan distribusi yang berbeda dibandingkan dengan wilayah perkotaan atau pesisir. Kecepatan dan ketepatan pengiriman bahan pokok ke area terpencil menjadi tolok ukur keberhasilan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan secara merata di seluruh pelosok Aceh.
Mitigasi Risiko Gangguan Distribusi Akibat Cuaca Ekstrem
Tito Karnavian secara spesifik menyoroti beberapa kabupaten yang secara historis memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan jalur transportasi. Fokus perhatian diarahkan pada wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kendala jika kondisi alam tidak bersahabat. Tito menyoroti kerentanan distribusi logistik di wilayah seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Kota Subulussalam, serta wilayah pedalaman seperti Nias.
Ia menjelaskan, daerah-daerah tersebut berpotensi terisolasi apabila terjadi gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem atau bencana lanjutan. Oleh karena itu, Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi telah menyiapkan langkah-langkah darurat untuk memastikan stok pangan tetap dapat menembus wilayah-wilayah tersebut meskipun akses darat terganggu. Sinergi antara pemerintah daerah, Bulog, dan instansi terkait terus diperkuat agar Ramadan tahun ini dapat dijalani oleh masyarakat Aceh dengan rasa aman tanpa kekhawatiran akan ketersediaan bahan pokok.