JAKARTA - Pakar kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjelaskan bahwa ibadah puasa Ramadan memberikan kesempatan bagi organ lambung untuk melakukan regenerasi sel secara alami.
Kondisi perut yang kosong selama belasan jam ternyata memiliki dampak positif secara biologis karena sistem pencernaan dapat beristirahat sejenak dari aktivitas pengolahan makanan yang biasanya berlangsung tanpa henti.
Penjelasan medis ini memberikan sudut pandang baru bahwa kewajiban spiritual bagi umat Muslim tersebut juga membawa manfaat fisiologis yang sangat besar bagi ketahanan sistem metabolisme tubuh manusia saat ini.
Proses Perbaikan Lapisan Dinding Lambung Melalui Mekanisme Istirahat Pencernaan
Selama menjalankan ibadah puasa produksi asam lambung akan menyesuaikan diri dengan jadwal makan yang baru sehingga meminimalisir risiko gesekan berlebih pada bagian mukosa atau lapisan dalam lambung.
Istirahat panjang yang dialami oleh saluran pencernaan memberikan waktu bagi tubuh untuk fokus melakukan perbaikan pada bagian sel-sel yang mengalami peradangan ringan akibat pola makan yang tidak teratur sebelumnya.
Para ahli menyebutkan bahwa keteraturan jam makan saat sahur dan berbuka secara tidak langsung melatih otot-otot lambung untuk bekerja lebih efisien dalam menyerap sari makanan yang masuk ke dalam tubuh.
Penurunan Kadar Peradangan Sistemik Akibat Pembatasan Asupan Kalori Harian
Puasa secara medis terbukti mampu menurunkan kadar sitokin pro-inflamasi di dalam darah yang merupakan pemicu utama terjadinya berbagai macam penyakit peradangan kronis pada bagian organ dalam manusia.
Dengan berkurangnya frekuensi masuknya makanan maka beban kerja pankreas dan hati juga ikut menurun sehingga proses detoksifikasi alami di dalam tubuh dapat berjalan dengan jauh lebih maksimal sekali.
Kondisi ini sangat menguntungkan bagi penderita gangguan pencernaan fungsional karena keluhan seperti perut kembung atau begah seringkali berkurang secara signifikan seiring dengan berjalannya waktu selama bulan suci tersebut.
Meningkatnya Keseimbangan Bakteri Baik di Dalam Saluran Usus Manusia
Pakar dari FKUI juga menyoroti adanya perubahan komposisi mikrobiota atau bakteri baik di dalam sistem pencernaan yang cenderung menjadi lebih seimbang dan sehat selama periode berpuasa.
Keseimbangan flora normal ini sangat penting untuk menjaga sistem imunitas tubuh agar tidak mudah terserang infeksi bakteri jahat yang masuk melalui kontaminasi makanan atau minuman yang tidak higienis.
Lambung yang sehat akan memberikan sinyal positif ke seluruh sistem saraf pusat sehingga seseorang seringkali merasa lebih tenang secara psikis dan memiliki kualitas tidur yang jauh lebih berkualitas lagi.
Pengaturan Hormon Ghrelin dan Leptin Guna Mengontrol Nafsu Makan Berlebih
Puasa Ramadan melatih sensitivitas hormon ghrelin yang bertugas memberikan sinyal lapar serta hormon leptin yang memberikan sinyal kenyang agar kembali berfungsi pada level yang sangat ideal bagi tubuh.
Perbaikan fungsi hormon ini sangat membantu individu dalam mengontrol nafsu makan mereka agar tidak melakukan kompensasi makan berlebihan secara mendadak saat waktu berbuka puasa telah tiba di sore hari.
Dengan hormon yang lebih stabil maka risiko terjadinya obesitas dan penyakit metabolik lainnya dapat ditekan seminimal mungkin sehingga kesehatan jangka panjang tetap terjaga dengan sangat baik sekali bagi semua orang.
Pentingnya Memperhatikan Pilihan Menu Saat Berbuka Demi Keberlanjutan Kesehatan
Meskipun puasa memberikan manfaat medis yang luar biasa namun pakar mengingatkan agar nasabah kesehatan tidak merusak proses penyembuhan tersebut dengan mengonsumsi makanan yang terlalu berlemak atau pedas.
Pilihan takjil yang sehat dan alami seperti buah-buahan atau air putih hangat tetap menjadi rekomendasi utama agar lambung tidak kaget saat menerima beban kerja pertama kali setelah seharian beristirahat.
Kedisiplinan dalam menjaga pola makan yang seimbang antara sahur dan berbuka akan memastikan bahwa manfaat medis dari puasa Ramadan dapat dirasakan secara utuh oleh seluruh umat yang menjalankannya.
Hingga hari Sabtu 21 Februari 2026 berbagai literatur medis terus memperkuat bukti bahwa pembatasan waktu makan secara teratur merupakan salah satu metode terapi terbaik untuk menjaga kesehatan organ dalam manusia.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda memiliki kondisi medis khusus seperti mag kronis agar pelaksanaan ibadah puasa dapat disesuaikan dengan kapasitas ketahanan fisik masing-masing individu di rumah.
Semoga melalui pemahaman medis yang mendalam ini masyarakat semakin termotivasi untuk menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan lambung sebagai aset masa depan yang sangat berharga.