PLTS

KAI Andalkan PLTS untuk Hemat Biaya dan Kurangi Emisi

KAI Andalkan PLTS untuk Hemat Biaya dan Kurangi Emisi
KAI Andalkan PLTS untuk Hemat Biaya dan Kurangi Emisi

JAKARTA - Transformasi energi kini semakin nyata di tubuh PT Kereta Api Indonesia (Persero). Perusahaan transportasi pelat merah ini tidak hanya fokus pada layanan penumpang dan infrastruktur, tetapi juga mulai serius menanamkan pijakan kuat dalam bidang energi terbarukan. Melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), KAI menegaskan komitmennya untuk menghemat biaya operasional sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Langkah tersebut bukan sekadar wacana. Perusahaan mencatat, penggunaan energi surya bisa menghemat biaya hingga Rp2,5 miliar setiap tahunnya. Tidak hanya efisiensi dari sisi finansial, dampaknya juga terasa pada aspek lingkungan karena mampu menekan emisi karbon sebesar 1.400 ton CO₂ per tahun. Sebuah kontribusi yang relevan dengan isu global mengenai perubahan iklim dan transisi energi.

Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang. “KAI terus memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan dengan memanfaatkan energi terbarukan. Hal itu melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS),” ujar Anne.

Target Perluasan PLTS

KAI tidak berhenti hanya pada instalasi awal. Tahun depan, perusahaan menargetkan penambahan PLTS di 23 lokasi baru. Rencana tersebut selaras dengan kebijakan pemerintah yang tengah menggenjot bauran energi nasional agar tidak lagi bergantung pada energi fosil.

Anne menegaskan bahwa setiap langkah modernisasi KAI harus memiliki sentuhan keberlanjutan. “Kami ingin setiap langkah modernisasi KAI selalu memiliki sentuhan keberlanjutan. Energi surya menjadi salah satu kunci untuk memastikan perjalanan masa depan yang lebih hijau,” tuturnya.

Upaya ini sekaligus menjadi penegasan bahwa sektor transportasi darat, khususnya kereta api, juga bisa menjadi pionir dalam penggunaan energi ramah lingkungan. Selama ini, transisi energi diidentikkan dengan sektor industri atau kelistrikan. Kehadiran PLTS di tubuh KAI menjadi bukti nyata bahwa transportasi juga berperan penting dalam mewujudkan masa depan yang lebih hijau.

Sejalan dengan Prinsip ESG

Kebijakan KAI dalam mengembangkan PLTS tidak berdiri sendiri. Program ini terintegrasi dengan roadmap Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan. Pada kerangka tersebut, aspek lingkungan ditempatkan sebagai fondasi utama, bersamaan dengan tanggung jawab sosial serta tata kelola yang baik.

Anne menekankan bahwa pemanfaatan energi terbarukan adalah wujud konsistensi KAI dalam menginternalisasi prinsip ESG ke dalam praktik bisnis. “Energi surya menjadi salah satu kunci untuk memastikan perjalanan masa depan yang lebih hijau,” ungkapnya. Dengan demikian, keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan langkah nyata yang dibuktikan lewat proyek berkelanjutan.

Melengkapi Program Keberlanjutan Lain

Selain energi surya, KAI juga sudah menjalankan berbagai inisiatif keberlanjutan lain. Beberapa di antaranya adalah elektrifikasi kereta, penggunaan tiket digital untuk mengurangi kertas, program daur ulang seragam pegawai, hingga penyediaan water station gratis di sejumlah stasiun.

Inisiatif tersebut memperlihatkan bahwa KAI berusaha menghadirkan inovasi ramah lingkungan di berbagai lini operasional. Tidak hanya berorientasi pada layanan penumpang, melainkan juga menjadikan keberlanjutan sebagai bagian integral dari budaya perusahaan.

Anne menambahkan bahwa energi surya hanyalah salah satu dari rangkaian upaya yang terus diperluas. “Dengan energi surya, kami ingin menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat diwujudkan secara nyata dan memberi manfaat langsung bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Dampak Lebih Luas

Jika ditilik lebih jauh, langkah KAI memanfaatkan energi surya berpotensi membawa dampak positif yang lebih luas. Dari sisi ekonomi, efisiensi biaya operasional memberi ruang bagi perusahaan untuk mengalokasikan anggaran pada pengembangan layanan maupun infrastruktur lain. Sedangkan dari sisi lingkungan, pengurangan emisi 1.400 ton CO₂ setiap tahun bisa menjadi kontribusi signifikan dalam pencapaian target net zero emission Indonesia.

Keberhasilan program ini juga bisa mendorong sektor transportasi lainnya untuk menempuh jalur serupa. Ketika KAI sebagai perusahaan transportasi besar mampu membuktikan efisiensi sekaligus keberlanjutan melalui energi terbarukan, sektor lain seperti bus, logistik, atau bahkan penerbangan dapat menjadikannya inspirasi untuk mengambil langkah sejalan.

Transformasi energi di KAI menegaskan bahwa keberlanjutan bukanlah pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak. Dengan PLTS, perusahaan tidak hanya berfokus pada penghematan biaya, tetapi juga pada warisan lingkungan yang lebih bersih untuk generasi mendatang.

Jika target perluasan ke 23 lokasi baru berjalan sesuai rencana, KAI berpeluang menjadi contoh nyata integrasi transportasi modern dan energi ramah lingkungan di Indonesia. Sebuah strategi yang mempertemukan kepentingan bisnis dengan kepedulian pada bumi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index