Investasi

Panduan Cerdas Investasi Saham Mandiri Sekuritas

Panduan Cerdas Investasi Saham Mandiri Sekuritas
Panduan Cerdas Investasi Saham Mandiri Sekuritas

JAKARTA - Pasar saham Indonesia semakin menarik perhatian publik seiring meningkatnya jumlah investor pasar modal. Meski demikian, saham baru mewakili 29% dari total produk keuangan yang beredar, dengan mayoritas masyarakat masih menempatkan dana pada produk simpanan perbankan sebesar 69%. Kondisi ini menunjukkan peluang pertumbuhan investasi saham masih terbuka lebar, terutama bagi generasi baru yang mulai melek investasi.

Presiden Direktur Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menegaskan bahwa banyak orang sebenarnya ingin terjun ke pasar saham, namun masih terhalang sejumlah mitos yang membuat mereka ragu. Menurutnya, persepsi seperti saham terlalu berisiko, hanya orang pintar yang bisa sukses, atau memerlukan modal besar dan waktu luang, adalah hambatan yang perlu diluruskan.

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor pasar modal telah mencapai 17,46 juta, di mana 7,4 juta di antaranya berasal dari saham dan surat berharga lainnya. Angka ini memperlihatkan tren positif, tetapi juga menegaskan bahwa basis investor saham masih terbatas jika dibandingkan dengan potensi yang ada.

Menetapkan Tujuan Sebelum Investasi

Dalam sesi edukasi yang digelar Mandiri Sekuritas, Oki menyampaikan langkah pertama yang harus dilakukan investor pemula adalah menetapkan tujuan investasi. “Di pasar modal ada semua pilihan produk investasinya, yang terpenting tetapkan dahulu tujuan investasinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa tujuan akan menentukan jenis instrumen yang dipilih. Untuk kebutuhan dana jangka pendek, investor sebaiknya memilih instrumen konservatif seperti Surat Berharga Negara (SBN), reksa dana pasar uang, atau produk serupa yang risikonya relatif rendah. Sedangkan untuk jangka menengah hingga panjang, investor bisa melirik obligasi korporasi, reksa dana saham, saham blue chip, hingga saham lapis kedua yang menawarkan potensi pertumbuhan lebih besar.

Mengatur Anggaran dan Dana Darurat

Panduan berikutnya yang ditekankan Oki adalah disiplin dalam mengelola anggaran. Ia menyarankan formula sederhana dengan membagi pengeluaran, utang, dan investasi dalam porsi 50:30:20. Artinya, separuh pendapatan digunakan untuk kebutuhan hidup, 30% untuk membayar kewajiban, dan 20% dialokasikan ke investasi.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menyiapkan dana darurat. Untuk investor lajang, dana darurat sebaiknya mencakup enam kali pengeluaran bulanan, sementara bagi yang sudah berkeluarga atau memiliki anak disarankan hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Dengan dana cadangan tersebut, investor dapat lebih tenang menghadapi risiko yang mungkin timbul dari fluktuasi pasar.

Memilih Saham dari Indeks

Bagi pemula yang bingung memilih saham, Oki menyarankan untuk berfokus pada saham yang telah masuk ke dalam indeks yang dikelola Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat ini ada 954 saham tercatat, tetapi tidak semuanya perlu diikuti. BEI sudah menyediakan indeks dengan kategori spesifik yang bisa dijadikan panduan.

Ia mencontohkan IDX High Dividend 20, yang berisi saham-saham dengan tradisi pembagian dividen tinggi. Ada juga LQ45, indeks berisi 45 saham dengan likuiditas dan kapitalisasi besar, serta IDX80 yang memuat 80 saham likuid dengan kapitalisasi besar. Bagi yang tertarik pada saham syariah, tersedia Jakarta Islamic Index 70. “Pilih saja saham-saham dari indeks yang ada di Bursa. Sudah pasti saham-saham terpilih,” kata Oki.

Diversifikasi dan Strategi Investasi

Oki mengutip prinsip investor legendaris Warren Buffet yang menekankan pentingnya diversifikasi. Menurutnya, bagi investor yang tidak memiliki banyak waktu atau sumber daya, diversifikasi aset adalah cara efektif untuk membangun portofolio berkinerja baik. Dengan menyebar investasi ke berbagai instrumen, risiko bisa ditekan dan peluang keuntungan tetap terbuka.

Lebih jauh, Oki mengingatkan agar investor tidak panik saat pasar bergejolak. Kondisi pasar yang turun justru bisa menjadi peluang membeli saham-saham unggulan dengan harga diskon. “Ini waktunya menganalisis saham-saham bagus yang dijual dengan harga diskon,” ujarnya.

Selain strategi rasional, Oki menyoroti faktor psikologis. Menurutnya, dua emosi utama yang sering menjebak investor adalah ketakutan dan keserakahan. Banyak investor membeli saham berdasarkan rumor dan buru-buru menjual begitu ada kabar negatif, padahal pasar sering bereaksi lebih cepat dibandingkan informasi yang terkonfirmasi. Karena itu, ia menekankan pentingnya mencari informasi akurat dan menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

Kinerja IHSG yang Menguat

Optimisme terhadap pasar saham juga tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus menguat. Pada perdagangan terakhir, IHSG mencatatkan penguatan 0,2% dan ditutup di level 7.952,09. Bahkan, indeks sempat menembus rekor baru dengan menyentuh 8.022,76 pada sesi pertama.

Nilai transaksi mencapai Rp16,6 triliun dengan volume 43,3 miliar lembar dan lebih dari dua juta kali frekuensi transaksi. Kapitalisasi pasar saham Indonesia pun tercatat sebesar Rp14.377 triliun.

Sejumlah saham menjadi penggerak, termasuk PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang mencatat kenaikan signifikan. Saham perbankan besar juga ikut menopang, seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 0,3%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 0,22%, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) naik 0,24%.

Menuju Basis Investor yang Lebih Kuat

Melihat perkembangan ini, Oki menilai masih ada pekerjaan besar untuk memperluas basis investor saham di Indonesia. Edukasi menjadi kunci untuk menghapus mitos yang selama ini menghambat masyarakat. Dengan panduan sederhana, disiplin mengelola keuangan, dan strategi yang tepat, ia optimistis semakin banyak orang akan berani mencoba berinvestasi di pasar modal.

Pasar saham Indonesia yang tengah mencatat rekor baru menjadi momentum yang tepat bagi masyarakat untuk mulai melirik investasi saham. Seiring dengan pertumbuhan jumlah investor, diharapkan pasar modal nasional akan semakin kuat dan berperan besar dalam perekonomian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index