Kemenperin Soroti Tantangan dan Strategi Penguatan Industri AMDK Dalam Negeri

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:33:19 WIB
Kemenperin Soroti Tantangan dan Strategi Penguatan Industri AMDK Dalam Negeri

JAKARTA - Industri air minum dalam kemasan menjadi salah satu sektor penting dalam menopang kebutuhan masyarakat. 

Pertumbuhan industri ini berjalan seiring dengan meningkatnya konsumsi air kemasan. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, masih terdapat sejumlah tantangan struktural.

Kemenperin Beber Tantangan Industri AMDK Dalam Negeri sebagai perhatian utama pemerintah. Kementerian Perindustrian memaparkan berbagai persoalan yang masih dihadapi industri ini. Tantangan tersebut berasal dari sisi bahan baku, distribusi, hingga lingkungan.

Pemerintah menilai pentingnya pemetaan tantangan secara menyeluruh. Langkah ini diperlukan untuk menjaga keberlanjutan industri AMDK. Tujuannya agar industri tetap kompetitif di pasar domestik.

Ketergantungan Bahan Baku dan Beban Produksi

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan tantangan utama industri AMDK. Salah satu persoalan terbesar adalah ketergantungan pada bahan baku kemasan impor. Kondisi ini memengaruhi struktur biaya produksi.

"Bahan baku kemasan AMDK ini belum sepenuhnya dapat dipasok dari dalam negeri. Dan ini banyak yang diimpor. Dan importasi bahan kemasan ini banyak yang kena BMAD," kata Putu. Beban Bea Masuk Anti Dumping turut meningkatkan biaya produksi. Dampaknya dirasakan langsung oleh pelaku industri.

Bahan baku yang terkena BMAD terutama BOPET dan BOPP. Selain itu, harga kemasan PET daur ulang masih lebih mahal dibanding plastik virgin. Investasi material daur ulang juga masih terbatas.

Biaya Produksi dan Keterbatasan Material Daur Ulang

Kontribusi bahan baku kemasan terhadap biaya produksi dinilai cukup tinggi. Kondisi ini memengaruhi efisiensi industri AMDK. Pelaku usaha harus menanggung beban biaya tambahan.

"Jadi bahan baku kemasan ini mempunyai kontribusi cost production yang cukup tinggi di dalam produksi AMDK," tegas Putu. Pernyataan ini mencerminkan tantangan struktural industri. Upaya efisiensi masih menjadi pekerjaan rumah.

Selain bahan baku, keterbatasan kapasitas industri plastik daur ulang juga menjadi kendala. Saat ini, kapasitas domestik baru memenuhi sekitar 19 persen kebutuhan nasional. Tata kelola pengumpulan bahan baku daur ulang dinilai belum optimal.

Distribusi, Logistik, dan Isu Lingkungan

Tantangan lain muncul dari sisi distribusi dan logistik. Keterbatasan moda transportasi masih menjadi hambatan. Penerapan aturan over dimension over load turut memengaruhi distribusi.

"Karena banyak AMDK yang didistribusikan dengan transportasi yang menggunakan kendaraan truk yang Over Dimension maupun Over Load. Jadi pembatasan juga terjadi pada periode-periode tertentu, terutama hari besar keagamaan dan ini berdampak pada kelancaran distribusi AMDK," ungkapnya. Hambatan ini berpengaruh pada ketersediaan produk di pasar. Distribusi menjadi kurang optimal.

Dari sisi lingkungan, industri AMDK juga menghadapi persepsi publik. Isu pengambilan air tanah berlebihan sering menjadi sorotan. Padahal pemanfaatan air industri ini hanya sekitar 0,22 persen dari potensi yang tersedia.

Kapasitas Industri dan Kontribusi Ekonomi

Kemenperin mencatat terdapat 707 pabrik AMDK di Indonesia. Kapasitas terpasang industri mencapai 47 miliar liter per tahun. Tingkat utilisasi tercatat sebesar 71,62 persen.

Industri AMDK menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Sekitar 46 ribu tenaga kerja langsung terlibat di sektor ini. Lebih dari 2 juta pekerja terserap di sepanjang rantai distribusi.

Nilai investasi industri AMDK mencapai sekitar Rp27,8 triliun. Pangsa pasar domestik tercatat sebesar 99,7 persen. Produksi sebagian besar untuk pasar dalam negeri dengan ekspor senilai US$21 juta dan surplus perdagangan yang tetap terjaga, sementara 54 persen pabrik berlokasi di Pulau Jawa dan sisanya tersebar di 36 provinsi.

Terkini