Bank Indonesia Yakin Ekonomi RI Tumbuh 5,4persen

Senin, 25 Agustus 2025 | 10:50:03 WIB
Bank Indonesia Yakin Ekonomi RI Tumbuh 5,4persen

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diyakini akan melaju positif di tengah berbagai tantangan global. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 4,6 hingga 5,4 persen sepanjang tahun ini. Optimisme tersebut muncul dari kombinasi kuatnya investasi, peningkatan belanja pemerintah, serta langkah-langkah kebijakan moneter dan fiskal yang terus dilakukan secara sinergis.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Juli Budi Winantya, menekankan bahwa tren positif di sektor investasi pada kuartal kedua diprediksi berlanjut hingga akhir tahun. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang mendukung proyeksi pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kinerja ekspor Indonesia juga diperkirakan akan membaik meski di tengah kebijakan tarif resiprokal 19 persen yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap produk-produk Indonesia.

“Pendorongnya investasi masih tetap kuat, ekspor yang membaik, didukung oleh tarif dagang terhadap Indonesia yang relatif lebih rendah dibandingkan negara lain diharapkan mendorong ekspor,” ujar Juli Budi Winantya dalam sebuah agenda pelatihan wartawan media nasional di Yogyakarta. Ia menegaskan bahwa meskipun tarif 19 persen dikenakan, besaran tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain, sehingga diharapkan dapat memperkuat ekspor dan mendorong investasi.

Selain investasi dan ekspor, sisi belanja pemerintah juga menjadi penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Peningkatan belanja pemerintah atau government spending berperan sebagai stimulus tambahan yang mendukung pergerakan ekonomi domestik. Dengan adanya peningkatan ini, daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi di sektor riil diyakini akan tetap terjaga, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa tetap berada pada jalurnya.

Dalam rangka memperkuat pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia juga melakukan langkah-langkah kebijakan moneter yang mendukung. Salah satu langkah terbaru adalah penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Pemangkasan suku bunga ini bertujuan untuk meningkatkan akses kredit, memperkuat daya beli, dan memberikan dorongan bagi investasi di paruh kedua tahun ini. Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen penting bagi BI untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Tak hanya itu, BI juga menyalurkan insentif melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang mencapai total Rp384 triliun. Insentif ini diberikan untuk memperkuat penyaluran kredit perbankan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan adanya dukungan likuiditas ini, diharapkan perbankan memiliki kapasitas lebih besar untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif, sehingga investasi dan konsumsi tetap terjaga.

Juli menekankan bahwa kombinasi antara investasi, ekspor, belanja pemerintah, serta kebijakan moneter dan fiskal yang bersinergi menjadi fondasi utama untuk mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi yang optimistis. “Sehingga ini kita harapkan dapat mendukung ekspor dan sebagai ikutannya adalah investasi yang juga diperkirakan akan meningkat,” tambahnya.

Selain mendorong sektor riil melalui investasi dan ekspor, kebijakan fiskal juga memainkan peran penting. Peningkatan belanja pemerintah diyakini dapat memberikan efek berganda terhadap ekonomi, mulai dari peningkatan konsumsi masyarakat hingga memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga merata secara sektoral.

Dari sisi moneter, langkah BI dalam menurunkan suku bunga dan memberikan insentif likuiditas menunjukkan fokus untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan. Penurunan suku bunga diharapkan dapat menurunkan biaya pembiayaan, meningkatkan investasi swasta, serta mendorong konsumsi masyarakat. Sementara insentif KLM memberikan dorongan tambahan bagi perbankan untuk menyalurkan kredit lebih luas dan tepat sasaran.

Dengan strategi yang terukur ini, BI yakin ekonomi Indonesia mampu bertumbuh di kisaran yang diproyeksikan, meski menghadapi tantangan eksternal seperti tarif resiprokal dari Amerika Serikat. Pendekatan yang menggabungkan kebijakan moneter, fiskal, dan dorongan investasi ini dirancang agar pertumbuhan ekonomi tetap kokoh dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, proyeksi pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 4,6 hingga 5,4 persen menjadi indikator bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan momentum pembangunan. Dengan dukungan investasi yang solid, ekspor yang meningkat, belanja pemerintah yang bertambah, serta kebijakan moneter yang adaptif, BI optimistis pertumbuhan ekonomi nasional akan terus terjaga.

Terkini

Honor X9c 5G: Baterai Jumbo & Kamera 108MP

Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:33:27 WIB

Lava Ultra Play 5G: Layar Luas, Kamera Tajam

Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:38:02 WIB

Realme 2 sampai 3 Jutaan: Smartphone Andal Dan Terjangkau

Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:41:34 WIB

Advan G9 Pro: HP Tahan Lama Harga Terjangkau

Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:46:12 WIB