JAKARTA - Ketidakpastian geopolitik kembali menjadi faktor utama yang mendorong fluktuasi harga minyak dunia. Para pelaku pasar energi menaruh perhatian besar pada perkembangan situasi di Eropa Timur, terutama terkait perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang hingga kini belum menunjukkan kepastian. Kondisi ini membuat harga minyak kembali melejit setelah sebelumnya mengalami tekanan jual dalam dua pekan terakhir.
Para pedagang mengambil sikap hati-hati menyusul dinamika politik yang rumit, terlebih setelah muncul harapan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebutkan kemungkinan adanya jalan diplomasi menuju akhir perang. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kedua belah pihak, baik Moskow maupun Kyiv, masih jauh dari titik temu.
Rusia dan Ukraina Saling Menyalahkan
Hingga kini, Rusia dan Ukraina saling menuduh sebagai pihak yang memperlambat jalannya proses perdamaian. Dari pihak Rusia, langkah militer tetap dilakukan. Serangan udara besar-besaran kembali diluncurkan di dekat perbatasan Ukraina dengan Uni Eropa. Sebaliknya, Kyiv menegaskan pihaknya berhasil melancarkan serangan balasan ke salah satu kilang minyak milik Rusia.
Kondisi ini memperburuk ketidakpastian dan menjadi alasan utama pasar minyak global kembali bergejolak. Selama konflik masih berlangsung, risiko pasokan energi yang terganggu akan selalu membayangi perdagangan internasional. Para investor pun enggan berspekulasi terlalu jauh sebelum ada kepastian dari jalur diplomasi.
Penurunan Stok Minyak AS Ikut Mempengaruhi Harga
Selain faktor geopolitik, harga minyak dunia juga terdorong oleh perkembangan pasokan di Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan stok minyak mentah di negeri tersebut turun lebih besar dari perkiraan pada pekan lalu. Hal ini menjadi sinyal adanya permintaan yang lebih kuat dari pasar domestik.
Volume minyak mentah yang tersimpan di tangki penyimpanan AS dilaporkan menyusut sekitar enam juta barel. Penurunan tidak hanya terjadi pada minyak mentah, tetapi juga pada bensin yang turun selama lima pekan berturut-turut. Kondisi ini memberikan dorongan tambahan terhadap harga minyak yang sebelumnya sempat tertekan.
Harga Minyak Masih Terkoreksi Secara Tahunan
Meski ada kenaikan harga baru-baru ini, secara keseluruhan harga minyak masih mencatatkan penurunan lebih dari 10 persen year-to-date (ytd). Tekanan itu muncul dari kekhawatiran terhadap dampak kebijakan perdagangan AS yang berpotensi mengurangi permintaan global.
Selain itu, langkah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC+) yang kembali meningkatkan produksi setelah sempat menahan pasokan juga menjadi faktor penting yang membatasi kenaikan harga minyak di pasar internasional.
Rusia Tetap Bertahan dalam Ekspor Minyak
Di sisi lain, Rusia menunjukkan ketangguhannya dalam mempertahankan pasokan minyak ke pasar global meski dibayangi sanksi dari berbagai negara Barat. Sebagian besar aliran minyak mentah Rusia kini beralih ke India.
Langkah India tersebut justru menuai kritik keras dari Amerika Serikat. Washington menilai pembelian minyak Rusia oleh India dapat memperlemah efektivitas sanksi yang diberlakukan. Bahkan Presiden Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap New Delhi jika negara itu terus memperbesar ketergantungan pada pasokan energi dari Moskow.
Pandangan Analis: Fundamental Masih Lemah
Menurut John Driscoll, direktur sekaligus pendiri perusahaan konsultan JTD Energy Services Pte., tren harga minyak kemungkinan masih akan menghadapi tekanan jangka panjang. Ia menilai faktor fundamental belum cukup kuat untuk menopang harga dalam jangka panjang.
“Dalam jangka panjang, kita harus melihat fundamentalnya dan memperkirakan harga minyak akan terus merosot setidaknya hingga pertengahan tahun depan,” ujar Driscoll.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik atau penurunan stok hanyalah bersifat sementara. Tanpa dukungan fundamental yang kuat, harga minyak mentah berisiko kembali mengalami pelemahan.
Dinamika Pasar Energi Global
Pergerakan harga minyak dunia saat ini mencerminkan betapa rapuhnya pasar energi ketika berhadapan dengan isu geopolitik. Perang Rusia–Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir menjadi faktor ketidakpastian terbesar.
Setiap eskalasi militer maupun kegagalan diplomasi langsung tercermin pada grafik harga minyak. Investor dan konsumen energi global pun dituntut untuk selalu waspada menghadapi perubahan cepat di pasar.
Kenaikan harga minyak dunia saat ini tidak hanya dipicu oleh penurunan stok minyak mentah AS, tetapi juga oleh ketidakpastian proses perdamaian Rusia–Ukraina. Meski ada harapan diplomasi yang disuarakan oleh Presiden AS Donald Trump, realitas menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari penyelesaian.
Rusia tetap mempertahankan pasokan minyaknya dengan mencari pasar alternatif, terutama India, meski langkah tersebut mendapat sorotan tajam dari AS. Sementara itu, pelaku pasar menunggu kepastian lebih lanjut, sembari mengantisipasi kemungkinan harga minyak yang masih bisa turun jika faktor fundamental tidak mendukung.
Bagi dunia, situasi ini menjadi pengingat bahwa pasar energi global sangat rentan terhadap dinamika politik dan ekonomi internasional. Setiap keputusan politik maupun pergerakan pasokan bisa membawa dampak besar terhadap stabilitas harga minyak, yang pada akhirnya mempengaruhi perekonomian global secara keseluruhan.