JAKARTA - Petani garam tradisional di Pantai Kusamba, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali, tengah menghadapi tantangan besar. Penjualan garam yang biasanya menjadi sumber utama penghasilan kini merosot tajam. Pasar mereka terguncang akibat maraknya produk garam palsu yang dijual dengan harga lebih murah. Di tengah kondisi itu, para petani justru menemukan sumber penghasilan alternatif dari produk sampingan proses pembuatan garam, yakni sari air laut atau nigari, yang kini menjadi penopang hidup mereka.
Nigari, Produk Sampingan yang Bernilai Tinggi
Nengah Kerta Yasa, petani garam Kusamba, menuturkan bahwa nigari dihasilkan bersamaan dengan proses pembuatan garam tradisional. Dalam kondisi cuaca terik, satu jerigen berisi 35 liter nigari dapat diproduksi setiap hari. Namun, jika cuaca mendung, dibutuhkan waktu dua hari untuk menghasilkan jumlah yang sama. Satu jerigen nigari dihargai Rp100 ribu, dan permintaan dari produsen tahu rutin datang setiap minggu.
“Hasil penjualan nigari inilah yang menopang kebutuhan sehari-hari saat ini,” ujar Nengah. Dengan demikian, meskipun penjualan garam merosot, pendapatan dari nigari menjadi penyelamat bagi para petani.
Dampak Cuaca dan Penurunan Produksi Garam
Sejak awal tahun, cuaca yang tak menentu membuat produksi garam tradisional Kusamba menurun drastis. Pada saat terik, petani bisa menghasilkan lebih dari 10 kilogram garam per hari. Namun, hujan yang kerap turun membuat proses penguapan air laut terhambat, sehingga produksi garam menurun signifikan. Kondisi ini memaksa para petani menyesuaikan target produksi harian mereka.
Tidak hanya faktor cuaca, permintaan garam tradisional juga mengalami penurunan. Biasanya, wisatawan maupun pembeli lokal datang langsung ke Pantai Karangnadi untuk membeli garam untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan spa. Kini, petani lebih banyak bergantung pada pesanan koperasi, sekitar 100 kilogram per bulan untuk produksi garam beryodium. Pesanan ini dibagi rata melalui kelompok petani, masing-masing mendapat sekitar 10 kilogram sesuai stok yang dimiliki.
Tantangan Pasar: Garam Palsu dan Harga Murah
Lesunya pasar garam Kusamba diduga kuat akibat maraknya garam palsu yang dijual dengan harga jauh lebih murah. Padahal, harga garam tradisional Kusamba di Pantai Karangnadi berkisar Rp20 ribu–Rp25 ribu per kilogram. “Sulit sekali menjual di pasar tradisional, karena pembeli lebih memilih harga murah,” keluh Nengah, yang telah menekuni produksi garam sejak 1984.
Para petani menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka ingin mempertahankan kualitas garam tradisional yang khas, namun di sisi lain, harga murah dari produk palsu membuat mereka kesulitan bersaing. Hal ini membuat pengembangan usaha garam tradisional semakin menantang, bahkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, petani kini harus mengandalkan produk sampingan seperti nigari.
Nigari dan Masa Depan Petani Garam
Nigari, yang sebelumnya hanya dianggap produk sampingan, kini berperan penting dalam menopang ekonomi petani. Selain digunakan sebagai bahan pembuatan tahu, nigari juga memiliki potensi untuk dipasarkan lebih luas, karena nilai jualnya yang stabil dan permintaan konsumen yang konsisten.
Keuntungan dari nigari membantu para petani menutupi sebagian kerugian akibat penurunan penjualan garam. Bahkan, beberapa petani mulai fokus pada produksi nigari, terutama ketika cuaca buruk menghambat produksi garam. Dalam beberapa kasus, nigari bisa menjadi sumber penghasilan yang lebih menguntungkan dibandingkan garam itu sendiri.
Upaya Perlindungan Petani Garam
Kondisi ini menyoroti pentingnya perlindungan bagi petani garam tradisional. Pemerintah dan koperasi lokal dapat berperan dalam memberikan dukungan, mulai dari pengawasan kualitas garam, edukasi konsumen tentang keaslian garam Kusamba, hingga pemasaran produk olahan laut seperti nigari. Dukungan ini tidak hanya membantu menjaga kelangsungan hidup para petani, tetapi juga mempertahankan kualitas dan reputasi garam tradisional Kusamba di pasar domestik maupun internasional.
Selain itu, diversifikasi produk seperti produksi nigari menunjukkan bahwa inovasi dalam usaha tradisional sangat diperlukan. Petani yang mampu mengelola produk sampingan dengan baik dapat meningkatkan pendapatan, bahkan di tengah tantangan pasar yang penuh persaingan.
Dengan kondisi cuaca yang tak menentu dan persaingan dari garam palsu, para petani garam Kusamba belajar beradaptasi. Nigari menjadi simbol ketahanan mereka dalam menghadapi kesulitan, sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan usaha garam tradisional. Meski jalan masih panjang, adanya alternatif pendapatan dari nigari memberikan secercah harapan bagi petani untuk tetap bertahan dan menjaga warisan tradisi garam Kusamba.