JAKARTA - Air bukan sekadar kebutuhan dasar manusia, melainkan juga kunci untuk menangani krisis iklim yang tengah melanda dunia. Hal ini ditegaskan oleh Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Air, Retno Marsudi. Menurutnya, pengelolaan air yang baik hari ini akan sangat menentukan kemampuan dunia dalam mengurangi dampak perubahan iklim di masa mendatang.
"Apabila kita berhasil menangani masalah air saat ini, maka kita akan mampu (mengurangi) perubahan iklim di masa mendatang," ujar Retno dalam Forum Investasi Iklim 2025 di Bali.
Dengan perspektif ini, isu air tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai masalah lokal atau regional. Air menjadi perhatian global, karena keterkaitannya dengan keberlangsungan kehidupan dan dampak perubahan iklim yang semakin kompleks.
Air Menjadi Prioritas Global
Retno menegaskan bahwa bagi PBB, air merupakan salah satu prioritas utama. Hal ini dibuktikan dengan penunjukan Retno sebagai utusan khusus bidang air, posisi pertama yang pernah ada di dunia PBB.
"Jadi, posisi saya sebagai utusan khusus adalah yang pertama kali dilakukan dan ini merupakan mandat daripada pertemuan UN Water Conference 2023. Dari situ saja sudah kelihatan bahwa dunia UN memberikan perhatian yang besar terhadap isu air ini," jelasnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa isu air tidak lagi dipandang sebagai masalah tersier, melainkan sebagai masalah strategis yang memerlukan perhatian lintas negara dan kerja sama internasional.
Bali dan Kontribusi Indonesia
Indonesia, khususnya Bali, telah menunjukkan perannya dalam tatanan global melalui penyelenggaraan World Water Forum ke-10 pada 2024. Forum ini dinilai sebagai salah satu yang paling sukses, sekaligus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperlihatkan kontribusinya dalam menangani tantangan air global.
"Di situ lah Bali dan Indonesia juga terlihat atau kelihatan dalam tatanan global bagaimana kita ingin berkontribusi untuk menangani tantangan air yang ada di dunia," ujar Retno.
Keberhasilan forum tersebut menegaskan bahwa kolaborasi antarnegara menjadi kunci, sekaligus memberikan contoh bagaimana solusi inovatif dan praktik terbaik dapat diterapkan secara luas.
Isu Akses Air di Berbagai Negara
Tidak semua wilayah di dunia memiliki akses yang memadai terhadap air bersih. Retno menyoroti kondisi di Afrika, di mana sebagian masyarakat bahkan tidak memiliki akses ke air sama sekali.
"Mereka mengatakan jangankan save drinking water, we don't have any kind of water. Kata-kata itu betul-betul terngiang di benak saya bahwa di sebagian dari dunia jangankan akses terhadap air bersih tapi, any kind of water mereka tidak punya akses," ungkapnya.
Situasi ini mempertegas urgensi kerja sama global dan aksi nyata dari semua pihak, tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat dan sektor swasta, untuk memastikan akses air yang aman bagi seluruh manusia.
Aksi Bersama dan Perlindungan Kelompok Rentan
Retno mengajak semua pihak untuk bergerak mulai dari diri sendiri, sekaligus memanfaatkan forum-forum internasional untuk kolaborasi. Dalam konteks global, inovasi finansial menjadi penting, misalnya dengan menjalin kemitraan dengan sektor swasta. Namun, setiap kebijakan harus memperhatikan kelompok rentan agar kebutuhan dasar mereka tidak dikorbankan.
"Tapi, sekali lagi tadi saya sampaikan hitung-hitungannya harus pas. Dalam artian kami tidak mau bahwa kepentingan kelompok rentan itu kemudian dikorbankan untuk isu ini karena air merupakan kehidupan, kebutuhan yang sangat mendasar," jelasnya.
Retno menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek perlindungan hak atas air dengan mekanisme pembiayaan yang melibatkan sektor swasta. Pendekatan ini harus matang, terukur, dan berkelanjutan, agar tidak menimbulkan masalah baru bagi masyarakat yang paling terdampak.
Air sebagai Hak Asasi Manusia
Selain menjadi elemen krusial untuk mitigasi perubahan iklim, air juga dianggap sebagai bagian dari hak asasi manusia. Retno mendorong agar akses terhadap air bersih dijamin, khususnya bagi kelompok rentan yang sangat membutuhkan perlindungan.
"Air merupakan kehidupan, kebutuhan yang sangat mendasar," tegasnya.
Pendekatan ini menekankan bahwa solusi air global bukan hanya soal teknologi atau investasi, tetapi juga soal keadilan sosial. Pemenuhan hak atas air harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan atau proyek pembangunan terkait sumber daya air.
Menuju Solusi Global
Isu air yang dikaitkan dengan perubahan iklim menuntut kerja sama lintas sektor dan negara. Dari forum internasional hingga program lokal, setiap langkah harus dirancang untuk memastikan keberlanjutan, efisiensi, dan keadilan. Retno menegaskan, jika pengelolaan air dilakukan dengan baik, dunia tidak hanya akan memperoleh akses air bersih yang lebih merata, tetapi juga mampu mengurangi dampak perubahan iklim secara signifikan di masa depan.
Dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, komunitas lokal, dan organisasi internasional, tantangan air global dapat diubah menjadi peluang. Peluang ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang.