MINYAK

Minyak Dunia Hari Ini: Brent dan WTI Kompak Turun

Minyak Dunia Hari Ini: Brent dan WTI Kompak Turun
Minyak Dunia Hari Ini: Brent dan WTI Kompak Turun

JAKARTA - Harga minyak global kembali mengalami penurunan pada Jumat lalu (Sabtu waktu Jakarta), seiring kekhawatiran pasar terhadap melemahnya permintaan di Amerika Serikat, sekaligus sorotan terhadap potensi gencatan senjata di Ukraina. Pergerakan ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik dan ekonomi masih menjadi penentu utama arah harga minyak di pasar dunia.

Harga minyak Brent turun 50 sen atau 0,73% menjadi USD 68,12 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan sebesar 50 sen atau 0,73%, ditutup pada harga yang sama, USD 68,12 per barel. Selain itu, minyak mentah berjangka tercatat turun 59 sen atau 0,91%, ditutup pada USD 64,01 per barel.

Pergerakan harga ini terjadi di tengah ekspektasi pasar bahwa permintaan minyak di AS—pasar minyak terbesar dunia—akan melemah setelah musim liburan musim panas berakhir dengan Hari Buruh pada Senin mendatang. Penurunan permintaan potensial ini menimbulkan tekanan pada harga, meskipun pasokan dari produsen utama global terus meningkat.

Fokus Pasar pada OPEC+

Analis dari PVM Oil Associates, Tamas Varga, mengatakan bahwa perhatian investor mulai bergeser ke pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan minggu depan. Produksi minyak mentah dari anggota OPEC dan sekutunya diketahui meningkat, karena kelompok tersebut berusaha merebut kembali pangsa pasar. Langkah ini memperbesar prospek pasokan global, yang pada gilirannya memberi tekanan pada harga minyak.

Namun demikian, menurut Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, peningkatan produksi tersebut belum terasa di pasar Amerika Serikat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa permintaan domestik bisa melemah setelah musim libur berakhir.

“Pesimisme tentang permintaan, saya tidak melihatnya. Pasokan dari OPEC seharusnya meningkat, tetapi kita tidak melihatnya di Amerika Serikat. Saya pikir situasinya akan tetap ketat," jelas Flynn.

Pengaruh Konflik Ukraina

Awal minggu ini, harga minyak sempat naik setelah serangan Ukraina terhadap terminal ekspor minyak Rusia. Namun, laporan mengenai pembicaraan sekutu Ukraina di Eropa terkait kemungkinan gencatan senjata membantu menekan harga kembali. Situasi geopolitik ini memperlihatkan sensitivitas pasar terhadap ketidakpastian di kawasan yang menjadi produsen minyak utama.

Analis Bank SEB, Ole Hvalbye, menambahkan bahwa persediaan minyak mentah AS untuk minggu yang berakhir 22 Agustus menunjukkan penarikan lebih besar dari perkiraan, menandakan bahwa permintaan pada akhir musim panas masih cukup kuat. Kekuatan permintaan ini terutama terlihat di sektor industri dan transportasi.

Sementara itu, Analis komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, memperkirakan bahwa harga minyak mentah Brent akan turun menjadi USD 63 per barel pada kuartal keempat tahun 2025. Proyeksi ini menunjukkan bahwa tekanan pada harga bisa berlanjut jika pasokan global meningkat lebih cepat dari permintaan.

Respons India terhadap Tekanan AS

Selain faktor permintaan dan geopolitik, respons India terhadap tekanan dari Amerika Serikat juga menjadi perhatian investor. AS mendorong India untuk menghentikan pembelian minyak Rusia, termasuk dengan menggandakan tarif impor hingga 50% pada Rabu lalu. Namun, India tetap menentang sanksi tersebut, dan diperkirakan ekspor minyak Rusia ke India akan meningkat pada September mendatang.

Tamas Varga menekankan bahwa pasar melihat sanksi Rusia kemungkinan tidak akan segera diberlakukan. India diperkirakan akan tetap membeli minyak Rusia dengan harga yang sangat murah meski menghadapi tekanan dari Washington.

“Pandangan yang berlaku adalah bahwa sanksi Rusia tidak akan segera diberlakukan, dan India akan mengabaikan ancaman sanksi AS dan terus membeli minyak mentah Rusia dengan harga yang sangat murah,” kata Varga dari PVM.

Pergerakan harga minyak Brent dan WTI pada 30 Agustus 2025 mencerminkan keseimbangan kompleks antara faktor permintaan, pasokan, dan geopolitik. Sementara produksi OPEC+ meningkat untuk merebut pangsa pasar, kekhawatiran terhadap permintaan AS dan dinamika geopolitik di Ukraina menekan harga minyak.

Investor global terus memantau situasi di pasar energi, termasuk respons negara-negara besar seperti India terhadap sanksi dan kebijakan perdagangan minyak. Dalam konteks ini, fluktuasi harga minyak akan tetap dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, politik, dan sosial yang saling terkait, sehingga ketidakpastian pasar diperkirakan akan berlanjut hingga kuartal terakhir 2025.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index