JAKARTA - Di tengah gejolak ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian dan sulit diprediksi, Indonesia justru memiliki peluang besar untuk memperkuat fondasi ekonominya. Menurut Bank Indonesia (BI), kondisi global yang penuh kejutan bukanlah hambatan, melainkan momentum bagi Indonesia untuk membangun ekonomi yang lebih tangguh, berdaya saing, dan mampu tumbuh lebih dinamis.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, menekankan bahwa upaya memperkuat ekonomi tidak bisa dilakukan setengah hati. Dibutuhkan langkah-langkah strategis yang memadukan kebijakan moneter, makroprudensial, dan dukungan likuiditas untuk menciptakan ruang gerak bagi perbankan. “Untuk membangun ekonomi yang lebih kuat, Indonesia perlu memperkuat sisi likuiditas, menjaga kebijakan makroprudensial longgar dan operasi moneter, serta memberikan insentif likuiditas untuk menambah ruang gerak perbankan,” ujarnya.
Juda Agung menegaskan, bank-bank perlu menyiapkan diri untuk mengalihkan likuiditas yang tersedia menjadi kredit. Selain itu, perbankan juga harus berani mempercepat penurunan suku bunga dana dan kredit agar likuiditas bisa segera dirasakan oleh pelaku ekonomi.
“Ke depan, bank perlu meningkatkan kesiapan untuk segera melakukan realokasi dari likuiditas ke kredit dan berani mempercepat penurunan suku bunga dana serta kredit,” kata Juda. Pernyataan ini menunjukkan bahwa BI melihat peluang untuk memperkuat transmisi kebijakan ekonomi secara nyata, agar likuiditas yang tersedia tidak stagnan di sistem perbankan.
Dalam upaya mempercepat proses tersebut, BI menekankan empat fokus kebijakan. Pertama, lembaga ini mencermati ruang pelonggaran BI rate lebih lanjut. Strategi ini ditujukan untuk mendorong agar transmisi kebijakan moneter bekerja lebih efektif. Pelonggaran suku bunga, menurut BI, dapat memacu aktivitas kredit dan investasi sehingga perputaran ekonomi meningkat.
Kedua, BI memperkuat efektivitas transmisi melalui penyesuaian struktur instrumen moneter dan swap valas. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas perbankan dalam memanfaatkan likuiditas yang ada, sekaligus memperluas dampak positif bagi sektor riil.
Ketiga, BI menambah likuiditas pasar uang secara terukur. Strategi ini dilakukan melalui penyesuaian Standar Rasio Likuiditas Bank Indonesia (SRBI) dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Dengan mekanisme ini, likuiditas yang tersedia di perbankan bisa lebih optimal untuk disalurkan ke kredit dan pembiayaan sektor-sektor prioritas.
Keempat, pelonggaran kebijakan makroprudensial terus dilakukan untuk mendorong penyaluran kredit. Selain itu, langkah ini juga bertujuan menurunkan suku bunga dan memperkuat ketahanan perbankan. Dengan begitu, sektor perbankan tidak hanya menjadi penampung likuiditas, tetapi juga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
Selain fokus kebijakan, BI juga meningkatkan porsi Kredit Likuiditas Mikro (KLM) dari 4 persen menjadi 5 persen. Hingga pekan pertama Agustus 2025, total insentif KLM mencapai Rp384 triliun. Insentif ini disalurkan kepada berbagai kelompok bank, termasuk bank BUMN, bank umum swasta nasional (BUSN), bank pembangunan daerah (BPD), dan koperasi simpan pinjam. Secara rinci, bank BUMN menerima Rp171,5 triliun, bank BUSN Rp169,2 triliun, BPD Rp37,2 triliun, dan koperasi Rp5,7 triliun.
Distribusi insentif KLM ini juga dilakukan secara sektoral. Sektor-sektor prioritas yang mendapat dukungan antara lain pertanian, real estate, perumahan rakyat, konstruksi, perdagangan, manufaktur, transportasi, pergudangan, pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, Ultra Mikro, dan sektor hijau. Dengan fokus pada sektor-sektor ini, BI berharap likuiditas yang tersedia dapat memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan merata.
Juda Agung menekankan pentingnya kolaborasi antara perbankan dan pemerintah untuk memastikan likuiditas tidak berhenti di sistem perbankan. Menurutnya, likuiditas harus benar-benar menjadi tenaga penggerak ekonomi agar pertumbuhan bisa lebih berkelanjutan. “Dengan semangat kolaborasi, mari kita pastikan likuiditas yang ada tidak berhenti di perbankan, tetapi benar-benar menjadi tenaga penggerak ekonomi, menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif, kuat, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Strategi ini menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya bergantung pada kondisi global. Meski dunia masih diwarnai ketidakpastian dan kejutan, langkah-langkah yang sistematis dari BI diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi domestik. Penyaluran likuiditas yang tepat, dukungan terhadap sektor prioritas, serta pelonggaran kebijakan makroprudensial menjadi kunci untuk menjaga stabilitas, mendorong kredit, dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia memiliki peluang untuk tumbuh lebih dinamis dan resilient menghadapi berbagai tantangan global. Langkah proaktif Bank Indonesia menunjukkan bahwa meski ketidakpastian global tinggi, ekonomi domestik tetap bisa diarahkan menuju pertumbuhan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan tangguh di masa depan.